Follow my tweets on twitter!

Pages

Senin, 20 April 2015

Our First Love

Terinspirasi dari tulisan ini --> First Love gue jadi kepikiran tentang betapa samanya keadaan dalam keluarga gue.

"Kita berlima (ortu,saya, dan 2 adek) ngga pernah sekalipun bilang “I love you” ke satu sama lain dan bakal berasa aneh kalo dipaksa bilang kaya gitu. Agak sering geli sama anak yang sering bilang I love you ke ortunya, bukan ga suka tapi it’s just not us (or at least me for and my brother)."


Emang bener, aneh rasanya mau bilang sayang ke orang tua atau keluarga. Padahal, rasa sayang sama orang tua itu melebihi apapun di dunia ini. Apapun yang berhubungan dengan keluarga, rasanya sentimental banget.

Itulah kenapa, waktu kuliah gue segimana mepetnya pun selalu nyempetin pulang biar cuma libur satu hari. (Jaraknya emang deket sih, cuma sejam naik motor)
Teman-teman dan ortu gak ngerti kenapa gue lebih milih pulang ke rumah pas orang-orang di kampung berbondong-bondong pergi ke kota pas liburan tahun baru. Atau pas awal kuliah gue pulang malam-malam pulang sendirian ke rumah cuma karena gak enak hati denger adek gue sakit panas dan mama lagi sendirian di rumah, padahal adek gue ini sering jadi tempat luapan emosi gue yang selalu meledak-ledak kalau lagi marah, dan untuk menuju rumah gue itu ngelewatin jalanan hutan.

Pernah nonton film 'Hafalan Sholat Dellisa' Disitu Delisa bilang ke ibunya "Delisa sayang bunda karena Allah.." Coba gue bayangin gue yang bilang gitu ke mama gue, awkwarddd..

Gue ngiri juga kadang-kadang liat anak yang dekat sama orang tuanya, ngomongin apapun selalu lancar. Sedangkan gue selalu terasa aneh, dan selalu gue gak bisa berkomunikasi dengan baik bila menyangkut sesuatu yang mendalam. Halah..

Tapi beneran lohh.. Gue sebenernya pengen ada Deep Convo dengan orang tua. Karena selama ini, gue kalau punya masalah gue pendam sendiri, akhirnya stress sendiri. Padahal gue tau banget kalo gue udah ngomong sama ortu pasti bakal lega, tapi tetaplah susah ngomongnya.





Dinyatakan atau tidak dinyatakan, tetap saja itu cinta.

I've never been in love with a guy yet. But if you ask me about first love, my family is..



Minggu, 12 April 2015

Trik Resume Capability IDM

Pernah gak pas download sesuatu, tertera di sana bahwa Resume Capability : NO yang artinya gak bisa di resume? Atau, ada yang YES tapi pas udah lama nungguin sampai 99% mendadak gagal (biasanya karena koneksi internet putus) dan pas klik resume malah ulang dari awal.

Rasanya pasti KZL ya bok.. Apalagi file yang didonlot itu gede, biasanya sih file film (Penggemar film bajakan nih yee..) Hihihi *Selfkeplak

Tapi jangan khawatir, gue nemu trik yang sebenarnya udah lama ketemu cuma baru kepikiran buat share di blog. Mungkin banyak juga ya yang udah tau trik ini atau bahkan udah pernah share juga. 

Gue mulai kebanyakan omong, mending langsung aje yee..

1. Merubah Resume Capability NO Menjadi YES

- Saat proses download, klik Cancel
- Klik kanan pada file tersebut lalu pilih Properties
- Klik pada kolom address kemudian di ujung link, hapus bagian "?start=0"
- Klik OK
- Klik kanan pada file yang sudah didownload tadi lalu klik resume

Kadang, ada address file yang gak ada  "?start=0" -nya, untuk mengatasi ini, tinggal tambahin "s" pada bagian "http:" nya sehingga url nya menjadi "https:" lalu klik resume file.

2. Resume Download Tanpa Mengulang

- Kembali ke page link download berasal
- Copy link baru file tersebut. (Link download ya bukan URL)
- Klik kanan pada file yang gagal resume tadi, lalu pilih Properties
- Blok link pada kolom address lalu hapus
- Paste link baru tadi
- Klik OK
- Klik resume download

Cara di atas berguna untuk kira-kira 9/10 percobaan, karena pernah juga ketemu file yang emang gak bisa di resume samasekali meskipun pakai trik, tapi jarang gagal kok. Semoga bermanfaat yaa..

Jumat, 10 April 2015

Curhat: Balada Dada Ayam



Gue udah terlalu benci, makanya gue harus nulis ini biar lega!

Siang ini, gue nitip minta beliin makan sama adek gue, terus gue udah menunggu dan menunggu dalam keadaan lapar.. Disaat seperti ini, gue mengharapkan makanan yang datang dapat gue nikmati segera dan sesuai yang diharapkan. Tapi apa yang akhirnya muncul? Dia bawain gue DADA AYAM! Padahal dia tau gue benci banget sama makanan yang satu ini..

Dengan ketidakberdayaan gue mencoba ikhlas karena udah lapar gue mutusin buat makan aja tu dada ayam, eh.. Pas diliat, satu-satunya bagian yang bisa gue makan dari DADA AYAM sialan ini, yaitu  kulitnya, ternyata udah dimakan duluan sama adek gue tanpa ijin!!! Gimana gue gak KZL???!! Hah?!!!
Rasanya gue pengen lempar tu dada ayam keluar jendela..



Segitu bencinya kah gue sama dada ayam? YA! Gue benci banget, daging yang gak ada rasanya ini adalah musuh gue. Gue suka bingung kok banyak aja orang yang suka milih dada ayam?

Pernah tuh, gue beli nasi padang dengan sumringah dibungkusin sama tukang nasi padangnya. Tapi pas gue buka bungkusannya di rumah, yang gue lihat adalah dada ayam, PADAHAL GUE UDAH BILANG MAU PAHA! Dan karena kebudeg’an tukang nasi padang itu gue jadi kehilangan mood gue pas mau makan, tapi berhubung laper, gue makan juga tuh meskipun gue benci, tapi sedikit banget yang gue bisa makan, dagingnya yang hambar itu tetap aja gue sisain. Gak enak tau makan sambil ogah-ogahan karena gak sesuai harapan. (T_T)

Pernah juga gue masak ayam dirumah, setengah ekor ayam ini udah selesai gue masak dan karena gue masih kenyang, makannya gue tunda, pas gue lapar, yang gue lihat sisa potongannya cuma bagian-bagian dada doang. Paha atau sayap udah ludes sama adek-adek gue.  Akhirnya gue milih buat makan telor dadar daripada dada ayam. Untung sekarang mamak gue di rumah kalo beli ayam khusus pahanya doang. You’re the best mom!
***
Mungkin yang baca curhatan gue ini bakal mikir “Wah, gak tau bersyukur banget sih, banyak loh orang yang gak bisa makan!”

TERSERAH!! Gue lagi kzl jangan diceramahin kalo lo gak mau gue jadiin pengganti dada ayam gorengg!

Minggu, 05 April 2015

[FF] Cincin Batu



Cahaya matahari mulai jingga tua, ayat-ayat suci terdengar dari alat pengeras masjid, pertanda akan segera magrib. Aku dan Amang Uli menuju ke lanting untuk mengambil air wudhu. Sebelum berwudhu, kami duduk sebentar di tebing dekat lanting sembari menunggu adzan magrib berkumandang.

“Ikam lihat nah Rip!” Amang Uli menunjukan jarinya.

“Wah, cincin baru kah Mang?”

“Iya, ikam lihat batu cincin ini, bagus, kan?”

“Bagus, mang!”

“Cincin ini amang beli kemarin, harganya lima ratus ribu.”

“Mahal sekali  mang, memangnya itu batu langka, kah?”

“Bukan sih, ini batu cincin biasa saja, yang membuat mahal itu karena ada “isi”-nya.”

“Isi?” 

“Iya Rip, batu cincin ini sudah diisi dengan sesuatu agar bisa menjaga kita dari celaka.” Jelas Amang Uli bersungguh-sungguh.

“Oohhh…” Sahutku sambil manggut-manggut.

Aku tak begitu mengerti, juga tak ingin tahu apa yang dimaksud Amang Uli, lagipula kata Ustadz Zaini, percaya terhadap benda seperti itu bisa membuat kita menjadi musyrik.

“Kalau ikam mau, nanti kita ke tempat penjualnya mumpung masih harga penglaris katanya.”

“Ah, tidaklah mang, aku tak suka memakai cincin batu.”

“Bah, Payah ikam ni Syarip.”

“Hehehe…”

“Ya sudah, tapi nanti ikam tawarkan lah pada yang lain, siapa tahu mereka tertarik.”

“Inggih mang.”

Allahuakbar.. Allahuakbar…

Adzan magrib sudah berkumandang, langit mulai gelap. Kami bergegas turun ke pinggiran lanting untuk mengambil air wudhu.

Terlihat kelotok melintas di tengah sungai, gelombang yang ditimbulkan oleh kelotok membuat lanting bergoyang-goyang.

Byuurrr… Terdengar seperti seseorang tercebur.

Setelah ku tengok, aku sontak tertawa terbahak-bahak ketka melihat Amang Uli sudah basah kuyup karena tercebur ke sungai yang dalamnya sedada.

“Sialan ikam Rip! Bukannya berusaha menolong malah tertawa.”

“Amang minta tolong saja pada cincin batu amang yang menjaga dari celaka tu. Hahaha…”

Cincin batu, ada-ada saja.

Rabu, 01 April 2015

[FF] Kau Bisa Menahan Rindu



“Laki-laki yang yang selalu menahan rindu sepertimu itu pengecut, Naveen!”

Dadaku hampir saja meledak saat mengatakan itu padanya. Dia selalu mengatakan kalimat itu jika aku mencoba menanyakan perihal rindu, dia bisa menahan rasa rindu, katanya. Bahkan menguburnya dalam-dalam jika memang tak memungkinkan untuk bertemu. Demi Tuhan, aku bosan melihatnya pura-pura tegar. 

Aku tau dia tak bisa berpisah denganku lebih dari seminggu. Seperti hal-nya diriku. Selama ini, kami selalu saling membutuhkan. Tapi sekarang, sudah hampir satu bulan lainnya dia mengabaikanku, tanpa kabar apapun. Kemarin tiba-tiba saja aku mendapat pesan singkat darinya yang isinya mengajaku untuk bertemu. 

"Aku menahannya karena aku tak mau hatiku terasa nyeri karena rindu padamu."

"Dan kita sudah satu bulan tak bertemu."

"Ya."

"Lalu kenapa kau tak berusaha menemuiku?"

“Aku ingin menemuimu, hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

“Aku sudah bilang aku tak bisa melanjutkan hubungan kita.”

“Tapi kenapa?”

“Aku sudah memberitahumu alasanku.”

“Alasanmu tak masuk akal.”

“Itu masuk akal.”

Ya, alasan untuk memisahkan hubungan kami ini memang masuk akal. Hanya saja aku tak mau menerimanya. Terlalu klise.
.
“Tapi kita bisa melalui ini semua, kita sudah sejauh ini..”

“Aku hanya tak ingin membuat sedih kedua orang tuaku, Neha.”

“Kita masih bisa berusaha, apapun caranya, seperti katamu dulu!”

“Aku sudah lelah memperjuangkannya.”

“Apa?”

“Kau mendengarku.”

Aku mencoba memegang tangannya, lalu menggenggamnya. Air mataku hampir tumpah. Tepi sungai tempat kami bertemu yang biasanya tenang, saat ini terasa seperti tebing lautan yang siap menelanku hidup-hidup.

“Aku tak mau putus, apapun alasanmu.”

“Neha, Mengertilah!"

“Aku tak mau mengerti.”

“Aku sudah mengatakan semuanya, sekarang aku mau pergi.”

“Tunggu dulu.”

“Ada apa lagi?”

“Kau belum mengatakan semuanya, aku yakin masih ada alasan lain.”

“Tidak ada.”

“Aku tak percaya”

“Terserah.”

Aku tak mengerti mengapa dia tiba-tiba ingin memutuskan hubungan kami dengan alasan yang dari dulu sudah kami ketahui rintangannya. Alasan yang sejak awal sudah kami perjuangkan. Pun, sikapnya tiba-tiba dingin seperti sekarang ini.

“Apa kau sudah tak yakin padaku?”

“Aku..”

“Katakanlah.”

“Aku harus segera menikahi wanita yang dipilih orang tuaku.”

“Apa?”

“Kau mendengarku.”

Aku melepaskan tanganku darinya, tak bisa lagi kutahan air mata yang beberapa menit lalu masih belum gugur. 

“Jika memang kau mencintaiku, kau tak akan dengan mudah menerimanya!”

“Aku tau.”

“Kau tau.”

"Maafkan aku."

"Maafkan dirimu sendiri."

"Neha..."

"Kau tidak menahan rindu Naveen, kau memang tak merindukanku, lagi. Seharusnya aku tau itu."

Minggu, 29 Maret 2015

Talking About Movie: Boyhood

Tertarik nonton film ini habis nonton oscar. Ternyata film ini dikerjain dalam waktu 12 tahun. Wow, saluteeee...!
Keseluruhan film ini mengisahkan tentang Mason (Ellar Coltrane) yang dari umur 6 sampai 18 tahun. Diliat-liat, si Mason makin gede kok makin mirip sama Ethan Hawke ya? Dia yang jadi peran ayah si Mason.



Biasanya sebelum nonton film, gue liat-liat review di blog orang dulu, banyak gue temui ke-boring-an di sana. Karena emang film-nya berdurasi hampir 3 jam dan tanpa klimaks. Bagi penyuka film gerak cepat, mereka sudah pasti melipir dari menit ke 30, atau mungkin kurang. heheh..

Mason dengan kakak perempuannya Samantha yang agak-agak, lucu, tinggal sama sama ibunya karena orang tuanya berpisah. Perjalanan hidup Mason inilah yang dijadikan cerita, gak ada yang terlalu spesial, tapi gue beneran sukaaa sama ni film.

Dari awal film sampai akhir gak ada tuh gue ngerasa boring, malah pengen nambah durasi. Haha
Mungkin karena bawaan gue emang dari sononye suka nonton film Jepang yang rata-rata kayak gini, datar dan anti klimaks. Gue adalah penikmat film disepanjang cerita, jadi gak masalah gak ada ending yang memuaskan atau puncak adegan(?)
Sama kayak film Before Sunset, Sunrise dan Midnight. Teman gue bilang "Film apaan sih nih?" Padahal gue udah berapa kali ngulang nonton film itu gak bosen-bosen.

Sedikit curhat, gue iri banget dengan keterbukaan orang-orang di sana, sama keluarga, sama siapapun gak ada yang terlalu nyimpen unek-unek sendiri, semuanya jelas dan diperjelas. They have those all good talking to each other. Itu udah jadi budaya mereka.

Kebanyakan kita kan, gak enakan, jadinya disimpen sendiri, akhirnya marah-marah dan melampiaskan ke hal lain. Hehe
Dalam keluarga gue sendiri, gue akui gue selalu menghindari yang namanya perbincangan awkward, saru, dan tabu sama orang tua gue. Padahal itu penting loh dalam keluarga. Hmm..
Bukan cuma yang awkward sebenernya, gue punya big huge problem dalam berkomunikasi kalo menyangkut masalah isi hati. *Halah.. Jadi sebisa mungkin gue selalu menghindar dan menghindar. I wish i could break the ice, but.. I just couldn't.

Gue sedikit prihatin sama peran ibunya si Mason di sini, harus membiayai dan mengurus 2 anak yang kecil sambil harus ngambil kuliah lagi demi hidup yang lebih mapan. Pernikahan dan perceraian disela semuanya, meskipun dia keliatan hebat dan kuat.. Pada akhirnya keluar juga kalimat,

"I knew this day was coming. I just... I didn't know you were going to be so fucking happy to be leaving. You know what I'm realising? My life is just going to go. Like that. This series of milestones. Getting married. Having kids. Getting divorced. The time that we thought you were dyslexic. When I taught you how to ride a bike. Getting divorced... again. Getting my masters degree. Finally getting the job I wanted. Sending Samantha off to college. Sending you off to college. You know what's next? Huh? It's my fucking funeral! Just go, and leave my picture! I just thought there would be more."


This is what i am worry about these days!

Seperti bercermin pada ketakutan gue selama ini, setiap orang tua gue membahas tentang pernikahan gue suatu hari nanti gue selalu takut untuk membayangkan. Karena gue merasa belum melakukan apa-apa, karena begitu banyak orang yang gue kagumi dan setidaknya gue pengen melakukan apa yang mereka lakukan dalam hidup gue. Sebelum menikah, dan terikat dalam suatu keadaan sepertinya ibunya Mason. Meskipun gak semua pernikahan bakalan bikin kita gak bebas, tapi punya pasangan seperti pasangan @DuaRansel itu 0000000,1/100. Lol!

Is my life going to be pointless? Forgotten after funeral?

Or to be remembered? I don't know, you don't know.


Kamis, 26 Maret 2015

Gue Benci (18+)

  1. Gue benci ketika udara terlalu panas
  2. Gue benci ketika paket kartu AS 1000/hari gue dilelet-leletin sama operator biar gue beli yang mahalan
  3. Gue benci Kalimantan masuk zona 5 jadinya harga paket internet-nya mahalan dibanding yang pulau Jawa
  4. Gue benci ketika port USB gue aus
  5. Gue benci ketika link film yang gue mau malah rusak
  6. Gue benci baterai laptop gue bocor
  7. Gue benci ketika gue harus nyuci piring habis makan
  8. Gue benci setiap gue bangun tidur sprei kasur gue berantakan
  9. Gue benci PLN matiin listrik
  10. Gue benci saat download udah mau selesai internet malah Disconnect dan gak bisa diresume download
  11. Gue benci ketika gue masih pengen makan, mulut gue capek ngunyah
  12. Gue benci ketika harus basa basi
  13. Gue benci dibangunin pagi
  14. Gue benci dibilang kebanyakan main laptop
  15. Gue benci ketika gue beli bahan masakan di warung lalu ditanya “Mau bikin apa?”
  16. Gue benci tv di kamar gue antenanya nyari ribut
  17. Gue benci headset gue cepet rusak
  18. Gue benci ketika email gue isinya tawaran dari Bank doang
  19. Gue benci buah rambutan di belakang rumah gue makin susah di naikin
  20. Gue benci harus mandi tiap hari
  21. Gue benci ketika gue posting novel baru di sosmed ada yang komen “Mending baca yasin!” Yeah, i will read it on your funeral!
  22. Gue benci ketika status pesbuk gue dikomenin OOT
  23. Gue benci pas baru mau mandi ujan, ujannya berhenti
  24. Gue benci HP gue baterainya cepat low
  25. Gue benci makan bisa basi
  26. Gue benci orang yang spam like di akun gue
  27. Gue benci orang yang komen di IG artis “agamanya apa ya?” Situ petugas KTP?
  28. Gue benci mantan gue ngira kita pernah pacaran
  29. Gue benci ketika kawan bapak/ibu gue nyeletuk “Wah, anaknya udah gede, bentar lagi nih” PRET.
  30. Gue benci harga Indomie naik
  31. Gue benci masak nasi
  32. Gue benci nyuci baju
  33. Gue benci colokan lampu dapur gue keras banget
  34. Gue benci dangdut
  35. Gue benci tetangga gue sering nyetel musik dangdut keras banget
  36. Gue benci orang-orang sok ngerti politik
  37. Gue benci orang yang merasa superior
  38. Gue benci RCTI kebanyakan sinetron
  39. Gue benci parody film favorit gue
  40. Gue benci roti Rugby di Breadlife selalu kehabisan
  41. Gue benci info tai ment selalu bahas artis gak penting
  42. Gue benci kucing gue gak bisa ngomong